Pers Release
“ Doa Bersama untuk Bunga Putra Bangsa ”
Mengenang Gus Dur, Romo Mangun, Ibu Gedong dan Frans Seda
Sabtu, 6 Februari 2010, Pukul 20.00 WIB
Aula SMA PL Van Lith Muntilan
“Membangun Indonesia yang Inklusif, Toleran dan Pluralistik”
Pada hari Selasa, 9 februari 2010 mendatang rakyat Indonesia akan memperingati 40 hari meninggalnya 2 tokoh besar yang mempunyai peranan penting bagi bangsa dan negara yaitu Gus Dur dan Frans Seda. Selain itu, 1 hari berikutnya, tepatnya pada hari Rabu, 10 Februari 2010, kita akan memperingati 11 tahun Romo Mangun. Ketiga tokoh besar ini layak mendapat penghormatan karena jasa dan warisan perjuangannya yang begitu berharga bagi kita semua. Apalagi sangat istemewa, 2 tokoh yaitu Frans Seda dan Romo Mangun merupakan eks-generasi Sekolah Muntilan. Juga kita mesti ingat 1 tokoh lain yang mempunyai peranan penting dalam perjuangan pluralisme dan pernah menjadi sahabat dekat Romo Mangun dan Gus Dur yaitu Bu Gedong. Mereka adalah Putra Bangsa yang menginginkan supaya ibu pertiwi yang bernama Indonesia ini menjadi bangsa yang inklusif, toleran dan pluralistik.
Cita-cita luhur mereka untuk Indonesia mendorong niatan hati kami untuk menyelenggarakan acara monumental yang diilhami dari adanya hasil sambung rasa adiluhung yang berjalan tidak terstruktur, dan seolah berjudul : “ Handarbeni lan Nguri-uri Leluhur”, dari satu, dua dan akhirnya beberapa orang rekan yang kemudian bersatu mengkristal dalam sebuah semangat persaudaraan untuk mewujudkan budaya adiluhur yang selaras dengan kata-kata para bijak “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa, perjuangan serta pengorbanan para pendahulunya” .
Acara ini kami gelar seiring dengan harapan besar kami agar senantiasa terjadi proses estafet rasa tanggung jawab dan semangat luhur yang mewaris antar generasi. Tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh besar yang dengan sekuat tenaga membela dan menghargai kehidupan dalam kebersamaan dan persaudaraan yang tertuang di dalam dasar Negara kita tercinta“Pancasila”. Mereka telah memberikan teladan-teladan bagi kita semua, dan seyogyanya kita patut meneruskan perjuangannya. Karena pada hari-hari selanjutnya perjuangan ini tidak akan semakin mudah namun akan semakin berat, mengingat bahwadefacto Indonesia merupakan bangsa yang penuh keberagaman.
Keberagaman atau pluralisme di Republik ini adalah kenyataan. Kita sebagai Warga Negara Indonesia adalah bagian dari kenyataan itu. Pada saat yang bersamaan, kita menyaksikan hampir setiap hari, selalu saja ada upaya untuk memporak-porandakan keberagaman itu dengan berbagai sentimen. Baik itu sentimen kesukuan, sentimen religius, maupun sentimen rasial. Dalam terminologi Suharto-ORBA, kita diperkenalkan dengan istilah ”isu SARA”. Pangkal dari berbagai sentimen itu, salah satunya, adalah semangat beragama yang eksklusif. Eksklusifisme beragama ini pada gilirannya menjadi pupuk bagi fanatisme dan fundamentalisme. Berbagai kerusuhan yang bermotif SARA dapat kita temukan dengan mudah di berbagai tempat di tanah air ini dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun.
Keempat tokoh yang hendak kita kenang yaitu Gus Dur, Romo Mangun, Ibu Gedong dan Frans Seda, kita tahu, adalah para pendekar pembela pluralisme. Para pejuang kemanusiaan yang tidak hanya menganjurkan tetapi juga bertindak nyata membongkar kungkungan fanatisme dan eksklusifitas beragama. Hidup mereka adalah teladan nyata dari semangat beragama yang saling menghormat dan menghargai. Pandangan dan gagasan mereka adalah pengawal dan pelindung sejati pluralisme. Oleh karena itu, kita harus meneruskan harapan dan cita-cita mereka. Kita juga harus turut serta dalam memperjuangkannya di tengah masyarakat. Salah satu yang akan dibuat adalah dengan menyelenggarakan Doa Bersama untuk mengenang mereka.
Sebagian besar dari kelompok yang terlibat dalam acara doa bersama ini adalah jejaring komunitas yang telah berkomitmen untuk meneruskan semangat dan perjuangan para tokoh itu dalam mengawal pluralisme. Harapannya, semoga acara itu bisa memperkuat resonansi semangat para tokoh pluralisme itu dalam kiprah komunitas-komunitas yang terlibat. Mengingat kedepannya perjuangan mengawal pluralisme tidak akan semakin mudah. Kita mesti bersinergi dalam membangun semangat persaudaraan sejati sebagai orang-orang beriman yang tunduk hormat pada Tuhan dan kemanusiaan. Melalui “Doa Bersama” ini, kita secara batin dan ikatan kebersamaan mau tunduk dan hormat pada Tuhan dan kemanusiaan melalui anamnese atau pengenangan tokoh pejuang pluralisme di Indonesia yaitu Gus Dur, Romo Mangun, Bu Gedong dan Frans Seda. Oleh karena itu, Paguyuban Van Lith (Pavali) menyelenggarakan acara ini bekerjasama dengan komunitas jejaring lintas agama Jogja – Magelang :
1. SMA PL Van Lith
2. Yayasan Tri Dharma Hok An Kiong Muntilan
3. Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta
4. Yayasan Tri Bhakti Magelang
5. Persaudaan Umat Beriman (PUBM) Magelang
6. Komisi Kepemudaan Kevikepan Kedu
7. Wiridan Sarikraman
8. KMK Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
9. Rumah Pelangi
10. Komunitas Balung
11. Ponpes Tegalrejo
12. Ponpes Gunung Pring
13. Seminari Mertoyudan
14. Youth Center KAS
15. PSM Sanjaya Muntilan
16. Museum Misi Muntilan
17. SMPK Muntilan
18. Komunitas Bruderan FIC
19. Pastoran Muntilan
20. Bimas Katolik Kab. Magelang
21. GP Ansor Magelang
22. Mudika Pepe
23. Pihak lainnya
Untuk Susunan Acara sebagai berikut :
1. Lagu Pembuka (Wiridan Sarikraman)
2. Pengantar & Doa pembukaan
3. Lagu Indonesia Raya
4. Mengheningkan cipta (Sangahanem)
5. Sambutan Ketua Panitia & Rektor SMA PL Van Lith
6. Lagu Renungan Kebangsaan (Wiridan Sarikraman)
7. Sharing Pengenangan Tokoh Pluralisme
- Gus Dur ( Gus Adit- Keponakan Gus Dur )
- Frans Seda ( keluarga Frans Seda )
- Romo Mangun (Direktur DED Yogyakarta)
- Ibu Gedhong ( Pak Wayan )
8. Eksplorasi Puisi & Pantomim (Andi & Anton Taufan Putra)
9. Doa bersama lintas agama (FPUB DIY+Magelang)
10. Happening Art (Wiridan Sarikraman, Sangahanem & ISI Jogjakarta) + makan malam
11. Doa Penutup
Wartawan cetak & elektronik Yang akan datang :
1. Indonesia Terra (Dorothea Rosa)
2. Antara (Mas Hari)
3. Harian Jogja (Mbak Olive)
4. Suara Merdeka (via Br.Warto)
5. Majalah Hidup (Tanto/Gendut Wukir)
6. Kedaulatan Rakyat (Mas Bagyo)
7. TV One (Mas Ucok)
8. Trans TV (Mas Joko)
9. RCTI (Mas Vije)
10. Kompas
11. Majalah Bianglala (Bu Enik)





Lihat pula liputannya di http://merapiindahfm.wordpress.com/sekilas-merapi/
I like design of your blog What is the name of template ?
Great website , love the template. Seriously considering migrating to this blog platform now!
Do you know where to find paid templates for my blog, i got site on the same cms like yours.
I want to make my first blog, do you think that wordpress cms is good ?
I like your blog design. What template did you use ?
Thanks for writing this post. Now everything is clear for me.
You post awsome posts. Bookmarked !
Good work ! Keep us posting, you are good writer.
This is a great post, please continue the fine work with this blog!
Great website online engine website! Maintain it up!
Good Work, you need to read more here……
I definitely agree with you regarding this topic. Nice post. Already bookmarked for future reference.